Anggota Basarnas Syok Temukan Perhiasan Korban Sriwijaya Air di Antara Puing Pesawat dan Jenazah

anggota-basarnas-syok-temukan-perhiasan-korban-sriwijaya-air-di-antara-puing-pesawat-dan-jenazah

JAKARTA – Esa Asep Saefudin, anggota Basarnas berusia 27 tahun mengaku terpukul atau syok menyaksikan temuan-temuan yang berhasil diangkut tim penyelam dari dasar laut perairan Kepulauan Seribu ke atas KN Sar 103 Wisnu.

Temuan-temuan tersebut berhasil diangkut saat dilakukan operasi pencarian korban pesawat Sriwijaya Air SJ-182 dengan rute Jakarta-Pontianak.

Namun, Esa yang bertugas sebagai pemilah temuan itu berusaha tetap tegar kala memindahkan potongan tubuh manusia dan serpihan pesawat ke kantong masing-masing.

 

Di saat bekerja memilah temuan-temuan itu, ada satu momen yang melekat di benak Esa. Pemuda asal Purwakarta tersebut pun terenyuh kala mengenang kembali cerita itu.

Ia melihat sejumlah perhiasan emas yang berhasil diangkut oleh tim penyelam. Itu di antaranya berupa cincin, gelang dan kalung.

Saat melihat temuan itu, kata dia, pikirannya seketika langsung membayangkan seorang ibu yang turut menjadi korban.

“Dalam batin saya, mungkin ibu itu mengumpulkan perhiasannya dengan jerih payah. Tapi malah berakhir seperti ini. Di situ saya menjadi sangat emosional,” katanya dikutip dari TribunJakarta.com pada Selasa (26/1/2021).

Karena pikirannya langsung tertuju pada seorang ibu, ia pun sempat terbayang bila itu menimpa ibunya sendiri. Ia pun berupaya menahan kesedihannya itu.

 

“Dengan kondisi seperti itu saya membayangkan, bagaimana kalau terjadi dengan ibu saya. Saya sebagai anak benar-benar goyah walaupun sudah terbiasa melakukan tugas ini,” ucapnya.

Bergabung dalam Operasi Pencarian

Sebelum bertugas menjadi petugas pemilah temuan, sebenarnya Esa sedang lepas piket.

Tapi, begitu mendengar informasi raibnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 pada Sabtu (9/1/2021), Esa langsung bergegas menuju Kantor Basarnas Jakarta dari rumah kontrakannya.

Ia pun diminta bergabung dalam misi operasi pencarian pesawat dengan registrasi PK-CLC tersebut.

Kebetulan, kontrakan pria asal Purwakarta tersebut tak jauh dari kantor Basarnas Jakarta di kawasan Neglasari, Kota Tangerang.

 

Tak berpikir panjang, ia memutuskan pergi. Meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Esa membawa sejumlah peralatan air dan langsung menyusul rekan-rekannya yang lebih dulu tiba.

Ketika sampai di perairan Kepulauan Seribu, Pesawat Sriwijaya Air yang sebelumnya dinyatakan hilang kontak nyatanya tak lenyap ditelan bumi.

Serpihan pesawat dan potongan tubuh manusia menjadi bukti kuat bahwa pesawat tersebut jatuh menghujam laut hingga hancur berkeping-keping.

Sejak itu, belasan hari Esa tidak menginjakkan kaki di daratan demi menunaikan operasi kemanusiaan pencarian korban pesawat tersebut.

Walaupun memiliki sertifikat penyelam, Esa ditugaskan menjadi pemilah potongan tubuh manusia dan serpihan pesawat Sriwijaya Air.

 

Tim penyelam berasal dari Basarnas Spesial Grup. Esa mengibaratkan tim tersebut seperti Kopasus-nya Basarnas.

Di atas KN Sar 103 Wisnu, ia bersama kedua temannya memilah-milah temuan yang berhasil diangkut tim penyelam.

“Saya bertugas memisahkan temuan seperti potongan tubuh manusia dan serpihan puing ke kantong masing-masing,” ujarnya kepada TribunJakarta.com.

Selama misi pencarian, perahu karet RIB (Rigit Inflatable Boat) setiap hari hilir mudik menepi di KN Wisnu untuk mengantarkan temuan.

Ia menceritakan hari pertama dan kedua pencarian adalah hari tersibuknya. Sebab, sekitar 50 sampai 70 temuan datang silih berganti ke KN Wisnu.

 

“Beres briefing jam 8 pagi, kita udah bersiap memilah-milah temuan. Hari pertama sibuk banget. Enggak berhenti kita dari pagi sampai sore,” ujarnya.

Esa miris menyaksikan temuan-temuan yang berhasil diangkut. Di antaranya, potongan tubuh manusia, sejumlah kartu identitas, tas, dan serpihan pesawat.

Dengan mengenakan sarung tangan, ia pun harus memindahkan potongan tubuh yang terpisah dari satu kantong ke kantong lainnya.

Bau tak sedap menguar dari dalam kantong temuan kala ia sedang memindahkannya.

Meski tak tersirat dari raut wajahnya, tetapi benaknya sedih harus memilah-milah anggota tubuh manusia yang tercerai berai itu.

 

“Naluri kita sebagai manusia melihat kondisi itu ya sedih dan prihatin. Akan tetapi kita harus melaksanakan tugas dengan baik,” ujarnya.

Hasil temuan yang sudah dipilah kemudian diantarkan menuju Jakarta International Container Terminal (JICT) II, Tanjung Priok untuk dibawa oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI).

Sempat Menyelam

Di hari-hari terakhir pencarian, Esa sempat diminta menyelam untuk mencari puing-puing pesawat di bawah laut.

Ia menyelam hingga kedalaman 18 meter. Menyisir setiap lokasi dengan jarak pandang sekitar 2 sampai 3 meter selama kurang lebih 15 menit.

Suasana di dalam laut saat menyelam sudah bersih dari sebagian besar puing-puing seusai disapu oleh tim BSG. Namun, ia sempat mengambil sejumlah temuan dari hasil penyelamannya itu.

 

“Saya bawa ke atas potongan kabel dan potongan puing kecil pesawat,” ucapnya.

Seusai 13 hari berada di laut akhirnya misi pencarian dihentikan. Esa dan rekan-rekannya bertolak dari perairan Kepulauan Seribu menuju daratan.