Ayah Kandung Rangga Minta Tak Posting Foto Anaknya Penuh Luka, Cukup Dalam Bathin Saja Saya Simpan

Ayah Kandung Rangga Minta Tak Posting Foto Anaknya Penuh Luka, Cukup Dalam Bathin Saja Saya Simpan

Ayah kandung Rangga, bocah 10 tahun yang tewas saat melawan pemerkosa ibunya membuat permintaan soal anaknya.

Ia meminta publik untuk tidak memposting foto anaknya dengan kondisi penuh luka akibat pembunuhan.

Hal itu dikarenakan ia khawatir jika mantan istrinya, ibunda Rangga, yakni D (28) akan semakin trauma.

Selain itu, ia juga menjaga perasaan ibunya dan mertuanya juga orang-orang terdekat yang selama ini ikut mengurus Rangga.

Ia memohon dengan sangat agar foto-foto anaknya dalam kondisi mengenaskan itu tidak dipublikasikan.

 

Meski saat ini banyak yang memposting fotonya di media sosial, namun sang ayah, Fadly Fajar mengaku tak akan membawanya ke ranah hukum.

Seperti diketahui, Rangga adalah pahlawan kecil dari Aceh yang tewas saat membela kehormatan ibunya.

Rangga tewas di tangan pemerkosa ibunya, seorang bujang lapuk bernama Samsul Bahri (41).

Saat itu, Rangga berada di rumah hanya berdua dengan ibunya karena sang ayah tiri sedang mencari nafkah di sungai.

Tiba-tiba pelaku Samsul datang sambil membawa parang dengan niat memperkosa ibunda Rangga.

Melihat perlawanan ibunya, Rangga yang tidur di sisi D pun terbangun dan melihat sang pemerkosa ibunya.

Sang ibu sempat meminta Rangga untuk lari agar tidak menjadi sasaran parang Samsul.

Namun bukannya lari, Rangga yang sangat mencintai ibunya itu malah berusaha melawan si pemerkosa.

Ia dengan spontan berteriak sehingga Samsul menyerangnya dengan parang yang ia bawa.

Rangga pun sempat menangkis sabetan Samsul yang kesekian kalinya, namun nahas tubuh kecilnya tak kuasa melawan penjahat itu.

Akhirnya Rangga tewas dengan kata-kata terakhirnya mengeluh sakit dan kemudian terdiam.

Jasad Rangga yang penuh luka pun sempat diseret oleh pelaku dan dimasukkan ke dalam karung kemudian dibuang ke sungai.

Padahal Rangga baru beberapa pekan saja tinggal bersama ibunya.

Sebab sebelumnya ia tinggal dengan ayahnya dan adiknya di Medan.

Melalui akun Facebooknya, ayah kandung Rangga, Fadly Fajar meminta untuk tidak mengunggah foto anaknya dengan kondisi penuh luka.

 

“Saya Fadly Fajar, dengan sangat memohon kepada all netizen, baik secara perorangan atau pun dalam kelompok,

untuk tidak lagi memposting photo almarhum anak saya: Rangga Aqshaal Mustaqhiim…,” tulis Fadli Fajar pada awal postingannya.

Foto yang ia maksud yakni dengan kondisi Rangga yang penuh luka-luka.

“Dalam keadaannya yang penuh luka..

dalam kondisi yang tidak layak dipublikasikan, dengan kengerian, dan mengandung unsur kekerasan..,” tulisnya.

Ia pun mengaku akan menyimpan foto itu di dalam bathinnya saja.

“saya mohon dengan sangat, cukup lah dalam batin saya luka-luka anak saya simpan…

dan saya juga mempertimbangkan kondisi psikologis ibu dari anak saya, ibu saya, mertua dan orang-orang yang sudah merawat Rangga, saat melihat photo tsb,….,” katanya lagi.

Selain itu, pertimbangan lainnya yakni Rangga masih anak-anak.

“Satu hal Rangga masih dibawah umur dan masih dilindungi dalam UUD perlindungan anak, dan tanpa ijin menyebarkannya terkecuali pihak berwenang dan yang mendapat kuasa..,” tuturnya lagi.

Meski begitu, ia tak akan membawa hal itu ke jalur hukum.

“”saya tak urus itu” yang saya mohonkan agar tidak lagi men-sharenya itu saja….

saya minta dengan sangat..

saya mohon dan terima kasih…

saya minta maaf jikalau perkataan saya kurang berkenan…..

mohon dimaafkan!!!!??,” tulisnya.

Curhat ayah bocah SD yang tewas di tangan pemerkosa ibunya.

Curhat ayah bocah SD yang tewas di tangan pemerkosa ibunya. ((facebook/fadlyfajar))

Sosok Rangga

Dilansir TribunnewsBogor.com dari Serambinews.com Rabu (14/10/2020), Fadli Fajar saat ini tinggal di Kota Medan, Sumatera Utara.

Sementara putranya, R, baru dua minggu tinggal bersama ibunya, D, di Kecamatan Birem Bayeun Aceh Timur.

Diakuinya, sejak berpisah dengan korban D dua tahun lalu, R bersama sang adik memang tinggal bersama dirinya di Medan Selayang.

“Tanggal 19 September 2020 lalu, saya baru saja merayakan ulang tahun almarhum yang genap berusia 10 tahun,” ujar pria berdarah Aceh-Karo ini sambil menangis.

Berapa hari setelah merayakan ultahnya yang ke-10, korban D datang ke rumahnya di Medan Selayang dengan maksud membawa Rangga ke Aceh.

Seperti sudah firasat, saat itu Fadli Fajar mengaku berat melepas kepergian putra pertamanya itu.

“Tapi karena almarhum terus merengek dan bersikeras ikut, akhirnya saya mengizinkannya,” imbuhnya.

Ia pun mengaku sempat kaget dan tak percaya mendengar kabar anaknya itu telah meninggal dunia.

“Saya hampir tak percaya mendengar kabar Rangga meninggal.

Dia meninggal terkena sabetan parang pelaku karena berusaha membantu ibunya di rumah itu,” ujar Fadli Fajar.

Ia pun menceritakan detik-detik saat anaknya melindungi sang ibu hingga akhirnya sakaratul maut di tangan Samsul.

“Saya dapat kabar bahwa sebelum meningal, anak saya sempat disuruh lari sama ibunya.

Tapi dia tidak mau lari, dia lawan pelaku.

Setelah terkena parang, ia sempat berucap sakit.

Lalu ia langsung terdiam, mungkin saat itu anak saya ini sakratul maut,” imbuhnya lagi.

Fadli Fajar mengenang, putranya itu merupakan anak yang cerdas.

Dia selalu mendapat ranking 1 dan 2 di sekolahnya.

“Almarhum memang beda dengan anak seusianya. Ia anak cerdas, periang, keras berpendirian, dan selalu mendapat rangking di kelas. Bahkan sekarang Ia sudah mampu membaca Alquran,” kenang ayahnya menangis sedih.

Kini, Fadli Fajar telah mengikhlaskan kepergian anak kesayangannya itu.

“Allah SWT lebih sayang kepadanya, sehingga memanggilnya duluan dari pada kami. ‘Selamat jalan nak, kami akan selalu merindukanmu nak’,” ucap ayahnya kembali menangis.

Diakhir perbincangan, Fadli Fajar berharap penegak hukum memberikan ganjaran seberat-beratnya kepada pelaku, supaya tidak ada lagi Rangga Rangga lain yang menjadi korban.

(TribunnewsBogor.com/Serambinews.com)