Beda Wuhan dan Jakarta Setelah Satu Tahun Covid-19 Melanda

Coronavirus News Asia, Indonesia: Lockdown Looms for Millions - Bloomberg

Jakarta – Wuhan di Tiongkok menjadi episentrum penyebaran virus korona. Dari Wuhan, covid-19 menyebar ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia.

Pada 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus pertama terkait covid-19 yang muncul di Indonesia. Jakarta sebagai ibu kota, menjadi titik pusat penyebaran pandemi covid-19 di Tanah Air bersama dengan wilayah lain.

Seketika, kehidupan masyarakat pun berubah dengan gerak lincah Ibu Kota Jakarta kini harus disertai dengan protokol kesehatan yang ketat. Pemerintah pusat dan daerah bersinergi lewat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro.

Masyarakat pun harus beradaptasi dengan perubahan ekonomi yang menurun. Hubungan sosial yang terganggu dan juga waktu untuk berekreasi berkurang jauh demi menjaga agar penyebaran virus tidak melonjak.

Sektor hiburan masyarakat menjadi salah satu usaha yang terpengaruh besar akibat virus korona ini. Terbaru, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria (Ariza) mewanti-wanti seluruh kafe di Ibu Kota mematuhi aturan PPKM. Kafe yang melanggar aturan akan ditindak tegas.

Berdasarkan keterangan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, Senin, 1 Maret 2021, kasus aktif covid-19 di DKI Jakarta mencapai 609. Meskipun angka tersebut menunjukkan penurunan.

‚ÄúTotal pasien yang masih dirawat atau diisolasi di Ibu Kota menjadi 9.756 orang,” ujar Dwi Oktavia.

Sementara berdasarkan data dari situs corona.jakarta.go.id, kasus terkonfirmasi covid-19 di Jakarta hingga 1 Maret 2021 mencapai 341.793. Sebanyak 3.865 warga saat ini masih dirawat, 326.509 dilaporkan sembuh dan 5.528 warga Jakarta meninggal akibat penyakit mematikan ini.

Covid-19 Lenyap

Situasi berbeda ditunjukkan di Wuhan saat ini. Pasca setahun diterjang pandemi mematikan, kondisi di Wuhan kini sudah berjalan normal.

Bahkan tidak ada lagi kasus covid-19 dilaporkan di kota tersebut. Namun masyarakat setempat tidak dapat melupakan kondisi melumpuhkan di saat kota itu harus menjalani lockdown selama 76 hari.

Coronavirus: WHO fails to find animal source of COVID-19 | News | DW | 09.02.2021

CNN menyebutkan, satu tahun setelah covid-19 melanda dan menjalani lockdown sejak 23 Januari 2020, tercatat 3.869 warga Wuhan meninggal akibat penyakit yang belum ditemukan obatnya itu. Sementara virus korona sudah menyebabkan kematian sekitar 2,5 juta orang penduduk bumi.

Dunia tercengang ketika penerbangan, kereta api dan bus yang meninggalkan Wuhan dibatalkan, jalan raya diblokir dan orang-orang diperintahkan untuk tinggal di rumah mereka, bergantung pada pejabat dan sukarelawan untuk kebutuhan sehari-hari. Awalnya, sulit bagi pasien, keluarga, dan bahkan beberapa petugas kesehatan untuk mencapai rumah sakit.

Tetapi pemerintah Tiongkok sejak itu menegaskan langkah-langkah drastis itu sebagai langkah penting untuk mengekang wabah awal, dan langkah-langkah serupa sekarang telah diberlakukan di negara-negara di seluruh dunia – dengan beberapa kota di luar Tiongkok menjalani beberapa kali penguncian.

Dalam konteks itu, Wuhan menjadi kisah sukses dalam menjinakkan virus. Mereka bahkan belum melaporkan infeksi virus korona lokal selama berbulan-bulan.

Puncak keberhasilan Wuhan dalam menangani covid-19 tampak dari perayaan Imlek 12 Februari tahun ini. Di malam sebelum perayaan Warga memadati jalan-jalan di pusat kota. Mereka menikmati melakukan persiapan akhir untuk Tahun Baru Imlek untuk menutup tirai di tahun yang dirusak oleh pandemi virus korona.

Tampak warga berebut untuk membeli makanan dan dekorasi di menit-menit terakhir untuk perayaan keluarga menjelang Tahun Kerbau. Pemulihan kota telah menarik perhatian. Pada 31 Desember 2020 di malam pergantian tahun, warga memenuhi jalan untuk merayakan. Sementara di banyak belahan dunia lain, mereka harus membatalkan acara tahun baru dan menggantikannya dengan acara virtual.

Bahkan di Amerika Serikat (AS), pelantikan Presiden Joe Biden dan Wakil Presiden Kamala Harris harus dinikmati oleh warga Negeri Paman Sam secara virtual. Pemerintah AS benar-benar membatasi gerak selama pelantikan.

Kini warga Wuhan bisa berbicara dengan bangga mengenai kegigihan mereka untuk mengatasi covid-19. Meskipun langkah ketat juga melukai warga dan rasa sakit secara emosional masih terasa bagi mereka yang kehilangan orang terdekat.