Berdalih Tukang Pijat, Suami Malah Berselingkuh dengan Tetanggaku

Pulang Dinas, Tentara Pergoki Istrinya Selingkuh di Kamar Mandi : Okezone News

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi

Sudah lama rasanya aku mengenal wilayah tempatku tinggal, hampir lima belas tahun. Mulai dari sebelah rumah hingga tetangga di depan komplek perumahan, aku kenal. Kami sering sekali pergi atau sekadar berkumpul di taman, melihat anak-anak bermain. Tapi itu dulu, usia kami yang tak lagi muda membuat kami saling bertukar cerita untuk tetap memertahankan kecantikan yang mulai memudar.

Kami sering bertukar info tentang makanan rendah kalori atau memiliki janji temu untuk olahraga bersama. Seketika komplek perumahaan yang kukenal sangat nyaman berubah menjadi penuh kegelisahan. Semua itu bermula saat salah seorang tetangga kami menjual rumahnya dan digantikan dengan seorang wanita. Ia sangat cantik, penuh gairah, bertubuh molek, dan terlebih lagi ia masih muda! Eveline.

Aku berusaha mendekatinya dan mencoba bersosialisasi karena kata orang “cara mudah mengalahkan musuh adalah dengan menjadikannya seorang teman.” Dia memang menanggapi sinyal pertemananku dengan baik tapi ia tidak pernah mau untuk benar-benar dekat. Ia tetap memberi jarak seolah tak ingin kehidupan pribadinya kuintip sedikit. Sebenarnya selama tiga bulan berusaha bersosialisasi dengan Eveline membuat aku merasa tidak nyaman.

Entah itu hanya ketakutanku atau memang benar adanya tapi kurasa keputusan untuk berteman dengannya adalah sebuah kesalahan dan itu dibuktikan pada bulan keempat. Ozil, suamiku, selalu membandingkan tubuhku dengan Eveline, ia bahkan memaksa aku untuk bisa mendapatkan kembali tubuh lamaku. Setiap sore Ozil melatihku berlari dan mulai membatasi asupan makananku. Di satu sisi aku bahagia karena sudah lama dia tidak memerhatikanku dan mendapatkan tubuhku kembali memang sudah menjadi targetku, tetapi di sisi lain aku merasa curiga padanya.

Apakah dia benar-benar ingin aku memiliki tubuh lamaku atau hanya ingin melihat Eveline terbalut pakaian seksi saat berlari? Entahlah tetapi aku cukup menikmati lari sore bersama Ozil, sudah lama rasanya kami tidak memiliki waktu bersama. Di saat istri-istri lain khawatir tentang kehadiran Eveline yang akan merebut suami mereka, aku justru dengan tenang menaruh percaya pada suamiku. “Dia sangat mencintaiku, tidak mungkin dia tergoda pada wanita kemarin sore seperti Eveline” pikirku percaya diri.

Aku menganggap sikapnya saat membandingkan tubuhku dengan Eveline hanya sebuah motivasi agar aku bisa cepat kembali ke tubuh lamaku. Perlahan aku hanya fokus pada pencapaianku meski rasanya sangatlah tersiksa! Aku tidak bisa makan makanan penutup kesukaanku atau es krim saat suasana hatiku tidak begitu baik. Tetapi aku berusaha untuk tetap menjalankannya dengan senyaman mungkin hingga suatu hari Ozil jatuh sakit dan ia tidak lari sore bersamaku.

Rutinitas harianku memang hanya sebagai istri dan ibu. Jadi lari setiap sore membuat aku merasa memiliki waktu untuk diriku sendiri. Hari itu Ozil sudah sakit selama dua hari tetapi aku tetap ingin lari sore seperti biasa, setelah menyediakan makanan dan obat untuknya aku pergi ke luar lalu kembali dua jam berikutnya. Aku sangat terkejut ketika kembali dan menemukan Eveline sedang memijat punggung suamiku.

“Apa yang sedang kamu lakukan?” Tanyaku, “ahh..maaf aku hanya mendengar kalau suamimu sedang sakit dan aku datang untuk menjenguknya. Tapi saat aku datang kamu tidak ada” jawabnya. “Dia pandai memijat Laura, aku merasa badanku jauh lebih baik” tambah Ozil, meski mulai curiga tetapi Eveline tetap kuajak bicara layaknya seorang tamu. “Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku tidak buta, jadi mari kita lihat sejauh mana kamu bisa memainkan peranmu” ucapku dalam hati.

Aku tidak ingin gegabah dan menuduhnya sebagai wanita jalang perebut suamiku. Jadi aku harus sedikit bersabar agar dia bisa kutangkap basah jika benar mereka melakukannya. Hari itu Eveline berakhir membantuku di dapur dan kami makan malam bersama, cukup canggung memang tetapi berusaha kututupi dan menganggap kalau semua itu adalah hal yang biasa dilakukan. Aku memang membuka jalan lebar untuk Eveline masuk ke dalam rumah tanggaku tapi bukan berarti aku tidak menyiapkan sesuatu untuknya.

Ajaibnya Ozil sudah kembali sembuh dari penyakitnya dalam sekejap. Hanya berselang satu hari aku kembali menemukan keanehan pada suamiku, tengah malam aku terbangun dan tidak melihat dia ada di sampingku. Aku menyusuri semua rumah sambil mengendap-endap, lalu mendengar dia berbicara dengan seorang wanita di ruang kerjanya. Namun sayangnya ketika aku mengintip dari lubang kunci, tidak kutemukan siapa pun sedang bersama Ozil. Ia memang terlihat berdiri di depan jendela tetapi tidak ada siapa pun di ruangan itu selain suamiku sendiri.

Kejanggalan itu masih kurasakan hingga keesokan harinya kemudian kuputuskan untuk bersembunyi di dalam lemari tepat di ruang kerja Ozil. Lemari berada di sudut ruangan dan memiliki posisi yang strategis, aku bisa melihat jendela juga sebagian besar isi ruangan dari dalam sana. Aku bersembunyi di sana setelah makan malam dan mengatakan pada suamiku akan menginap di rumah temanku. Ozil percaya dan aku mengambil ponsel lalu mengaturnya dalam mode senyap.

Tepat pukul dua belas malam aku melihat Ozil memasuki ruangan, ia terlihat berjalan pelan dan terburu-buru. Ozil mengambil seutas tali di laci meja kerja lalu membuka jendela dan melemparkannya ke luar. Lima menit berlalu muncul kepala seorang wanita dari jendela itu yang tak lain adalah Eveline. Ozil mengangkat dan memeluk Eveline untuk segera membawanya masuk ke dalam. Lalu Ozil langsung memeluk Eveline dan menciumnya dengan ganas “malam ini akan jadi malam terpanjang buat kita, Laura tidak ada di rumah” ucap Ozil.

Eveline menatap Ozil dengan tatapan nakal lalu membalas ciuman itu tak kalah ganasnya. Dari balik lemari aku mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel, sebagai bukti di pengadilan kalau dia yang mengkhianatiku. Ketika mereka sedang menikmati setiap cumbuan itu, aku keluar dari lemari “oh begini rupanya rubah yang selama ini bersembunyi di balik selimutku” ucapku. Rupanya kehadiranku membuat mereka sangat terkejut dan kehilangan keseimbangan sehingga berjalan mundur lalu terjatuh dari jendela lantai dua di rumahku.

Aku yang tak kalah terkejutnya pun berteriak hingga membangunkan banyak tetanggaku. Mereka berhamburan keluar rumah, menyaksikan Eveline dan Ozil yang sudah jatuh terjerembab di tanah. Aku berlari menuruni tangga sambil menghubungi ambulans, ketika sampai di depan rumah mereka masih tidak bisa bergerak. “Ada apa?” Tanya Mira, salah satu tetanggaku, “Eveline berselingkuh dengan Ozil selama ini dan dia masuk ke dalam rumah melalui jendela ruang kerja” jawabku berusaha menjelaskan apa yang terjadi.

Semula tatapan keji yang dilemparkan padaku mulai berpindah ke arah Eveline. “Aku memergoki mereka sedang berciuman tetapi rupanya mereka terkejut lalu hilang keseimbangan dan jatuh” tambahku menceritakan kronologi kejadian itu. Tak lama Eveline dan Ozil dibawa oleh ambulans, sedangkan aku menghubungi pengacaraku untuk memintanya mengirim berkas perceraian beserta bukti yang sudah kukirimkan ke pengadilan.

Pengadilan menetapkan kalau Ozil bersalah, sementara aku tidak dikenai hukuman meskipun ia mengalami cacat karena terjatuh dari lantai dua. Mereka malah memberikan semua harta dan hak asuh ke tanganku. Sekarang aku hidup tenang dan perlahan mendapati tubuh lamaku kembali. Aku masih tinggal di komplek yang sama tetapi kali ini tak lagi menghiraukan rumor apa pun tentang pernikahanku. Aku cukup bahagia meskipun masih harus melihat Eveline dan Ozil berada di komplek yang sama dengan kursi roda mereka.