Cuma Main Game Fortnite, Bocah 8 Tahun Ini Bisa Raup Rp 470 Juta

Cuma Main Game Fortnite, Bocah 8 Tahun Ini Bisa Raup Rp 470 Juta

California – Perkembangan industri game berhasil melahirkan eSports sebagai salah satu jenis olahraga baru. Tidak seperti olahraga pada umumnya yang membutuhkan kemampuan fisik, siapa saja bisa ikut serta dalam olahraga ini selagi mampu menggunakan mouse dan keyboard.

Karena tak pandang bulu, semua orang dari berbagai kalangan dan latar belakang bisa menyandang gelar profesional dan meraup penghasilan dari main game. Buktinya, bocah 8 tahun ini berhasil meraup penghasilan sebesar 33.000 dolar AS (sekitar Rp 472 jutaan) dari main game Fortnite.
Dia adalah Joseph Deen asal California, Amerika Serikat. Ia berhasil menyandang gelar gamer profesional di usia yang sangat dini sejak ia direkrut oleh klub eSports Team 33. Uang sebesar 33.000 dolar AS tersebut ia dapatkan dari bonus perekrutan.

Tak hanya uang, ia juga mendapatkan komputer canggih untuk menunjang aktivitas main game-nya. Hal ini membuatnya semakin serius untuk menekuni olahraga eSports.
“Saya merasa luar biasa saat pertama kali mendapatkan kontrak,” kata Joseph, dilansir BBC. “Saya sering memikirkan untuk menjadi gamer profesional, tapi tidak ada yang menanggapinya dengan serius, sampai akhirnya datanglah Team 33.”

Ia bercita-cita menjadi seperti Kyle ‘Bugha’ Giersdof. Kyle adalah gamer remaja, yang berhasil memenangkan turnamen dunia Fortnite pada tahun 2019 dan menggondol hadiah 3 juta dolar AS.
“Cita-citaku adalah menjadi seperti Bugha dan bermain seperti dia. Aku mencontohnya karena tidak ada yang peduli padanya sampai dia menang Piala Dunia dan aku merasakan hal yang sama,” ujar Joseph.

Cuma Main Game Fortnite, Bocah 8 Tahun Ini Bisa Raup Rp 470 Juta (1)

Joseph sendiri pertama kali bermain game sejak usia 4 tahun. Namun ia menjadi sorotan tim eSports baru 18 bulan yang lalu.
“Tim rekrutmen saya menghubungi saya dan mengatakan bahwa saya harus tahu soal anak bernama Joseph ini, dia sangat baik,” kata Tyler Gallagher, pendiri Team 33.

“Jadi mereka mulai melakukan pertandingan 1 on 1 sebanyak yang mereka bisa setiap hari. Setelah beberapa saat, tim rekrutmen saya mengatakan bahwa saya harus merekrut anak ini. Jika tidak, akan keduluan orang lain,” jelasnya.
Fortnite sendiri adalah salah satu game online terpopuler saat ini dan dimainkan ratusan juta gamer. Kehadiran Joseph sebagai pemain Fortnite profesional menuai pro dan kontra. Menurut badan sertifikasi usia utama dunia, Joseph masih terlalu muda untuk bermain Fortnite.

Game ini pertama kali dirilis pada tahun 2017 dan diberi peringkat PEGI 12 atau sertifikasi game untuk remaja karena mengandung kekerasan ringan yang sering terjadi.
Di sisi lain, ibu Joseph, Gigi, tidak keberatan anaknya bermain Fortnite setiap hari selama dua atau tiga jam sepulang sekolah. Ia juga diberi izin untuk bermain lebih lama saat akhir pekan.
“Saya melihat game apa yang dia mainkan dan saya rasa dia tidak melakukan sesuatu yang salah. Dia anak yang seimbang dan berasal dari keluarga yang baik dan dia tidak terpengaruh oleh game,” kata Gigi.

“Kalian bisa saja punya ibu yang sering mengomel dan mengatakan seperti ‘dia tidak boleh bermain’. Kemudian pada usia 13 tahun, anak-anak mereka mulai bermain dan menjadi gila. Saya tahu orang tua yang melakukan itu dan membuat anak-anaknya menjadi pemberontak. Saya tidak melihat ada masalah,” lanjutnya.
Selain bermain game, Gigi mengatakan bahwa Joseph senang bermain piano. Menurutnya, ini juga menjadi salah satu faktor kesuksesannya sebagai gamer.

Sementara uang bonus putranya tersebut sudah dimasukkan ke dalam rekening tabungan untuk ia gunakan setelah ia dewasa. Ia juga harus lebih mempersiapkan untuk meraih ambisinya sebagai superstar game.
Selagi Joseph masih berusia di bawah 13 tahun, ia tidak bisa mengikuti kompetisi berhadiah uang. Ia juga tidak diizinkan untuk melakukan streaming pertandingan secara online di Twitch, platform streaming game terbesar karena terkendala umur.
Melanggar aturan tersebut bisa merugikan Joseph dan tim barunya. Joseph juga terikat kontrak dengan Team 33 untuk melindunginya.

“Kami bisa mendidiknya untuk menjadi pemain kelas atas di usia muda dan memasukkannya ke kejuaraan besar segera ketika dia mencapai usia yang sesuai, seperti piala 3 juta dolar AS, yang dimenangkan Bugha,” kata Tyler.
“Joseph secara hukum diizinkan untuk mengikuti turnamen tanpa piala. Kami juga berencana untuk meningkatkan kehadiran online-nya melalui YouTube yang juga legal. Dengan kehadiran di media sosial, kami berencana untuk membuatkan merchandise untuknya dan menjualnya,” lanjutnya.
“Jadi dalam pandangan kami, jika kami dapat menghasilkan 33.000 dolar AS dari semua yang kami lakukan selama beberapa tahun ke depan, kami menang, dan itulah tujuan kami.”