Kilang Minyak Tuban, Dulu Ditolak, Kini Bikin Warga Kaya Mendadak

Hasil gambar untuk Kilang minyak tuban

Tuban-Warga desa di Kabupaten Tuban mendadak kaya raya dan menjadi miliarder gara-gara pembebasan lahan proyek kilang minyak.

Siapa sangka proyek New Grass Root Refinery (NGRR) itu awalnya ditolak oleh warga Desa Sumurgeneng pada tahun 2019.

Namun bak mendapatkan durian runtuh, warga desa itu kini bisa memborong ratusan mobil dalam waktu hampir bersamaan.

Kilang minyak di Kecamatan Jenu, Tuban tersebut merupakan proyek gabungan antara Pertamina dan Rosneft, perusahaan minyak dan gas asal Rusia.

Perusahaan gabungan itu dinamai PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia.

Berdasarkan kepemilikannya, Pertamina memiliki saham mayoritas dengan 55 persen, sisanya ialah saham Rosneft.

Proyek New Grass Root Refinery (NGRR) itu memiliki kapasitas 300.000 barrel per hari sehingga digadang-gadang bisa memperkuat kemandirian energi.

Proyek bernilai Rp 211,9 triliun itu ditargetkan bisa beroperasi pada 2026.

Dilansir dari Surya.co.id, kilang Pertamina-Rosneft diklaim sebagai kilang minyak tercanggih di dunia.

Kilang tersebut akan memproduksi gasoline, diesel, hingga avtur dengan hasil lebih berkualitas berstandar Euro V.

“Kilang Tuban memiliki standar terbaik di dunia, yang sangat ramah dengan lingkungan,” terang Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, seperti dikutip dari Surya, Minggu (1/12/2019).

Adapun total lahan yang dibutuhkan untuk proyek ini ialah seluas 841 hektare.

Rupanya, proyek kilang minyak ini sempat mendapat pertentangan.

Penolakan pernah dilakukan warga pada tahun 2019 karena mereka merasa harga pembebasan lahan belum cocok.

Pertamina akhirnya menempuh upaya konsinyasi melalui Pengadilan Negeri (PN) Tuban untuk mendapatkan lahan yang tersisa pada November 2020 lalu.

“Jadi kami melakukan upaya konsinyasi di PN Tuban kemarin,” kata Koordinator Konsultan Pengadaan Tanah PT Pertamina M Triyono, seperti dilansir dariSurya.co.id.

Kepala Desa Pomahan, Desa Sumurgeneng, Kasiyanto mengungkapkan, di wilayahnya ada 70 kepala keluarga (KK) di Dusun Pomahan yang mendapatkan uang penjualan tanah dari Pertamina.

Dari 70 KK itu, sekitar 50 KK awalnya menolak keras menjual tanah untuk pembangunan kilang minyak new grass root refinery (NGRR).

“Mereka yang membeli mobil baru secara bersamaan kemarin itu kelompok yang dulunya menolak keras menjual tanahnya,” kata dia.

Setelah menemukan kecocokan, kini tanah mereka dibeli dengan harga bervariasi dan bernilai miliaran.

Bahkan ada yang mendapatkan uang di atas Rp 20 miliar.

Menyusul diterimanya uang pembayaran tanah, fenomena menarik muncul.

Warga satu desa di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur menjadi beramai-ramai membeli mobil secara bersamaan.

Tak tanggung-tanggung, terhitung ada 176 mobil yang dibeli. Bahkan ada satu orang yang membeli dua hingga tiga mobil.

Rata-rata warga membeli Innova, Pajero, HRV hingga Honda Jazz.

Kepala Desa Sumbergeneng Gihanto membenarkan hal tersebut.

“Ya memang kondisinya begitu, dapat uang lalu beli mobil, ada juga yang dibelikan tanah lagi maupun bangunan rumah juga,” kata dia, seperti dilansir dari Surya.co.id.

Warga, kata dia mendapatkan uang hasil penjualan tanah yang rata-rata mencapai Rp 8 miliar.

Bahkan ada warga yang menerima Rp 26 miliar dan Rp 38 miliar atas kepemilikan beberapa hektare lahan.

Meski demikian Gihanto menyimpan kekhawatiran jika warga tidak memanfaatkan uang tersebut untuk kepentingan jangka panjang.

Ia mengaku hanya sedikit warga yang memanfaatkan uang untuk usaha.

“Yang dibuat untuk usaha sedikit, banyak yang digunakan untuk beli mobil, sudah ada 176 mobil baru yang dibeli secara bertahap, kemarin baru datang 17 mobil,” terangnya, Selasa (16/2/2021).

Bahkan ia mengatakan, tak heran di wilayahnya sulit ditemukan usaha seperti warung makan.

“Jadi jangan heran kalau di kampung sini cari warung makan aja susah,” ujarnya.