Mendadak! Ahmad Dhani bongkar sosok cuci otak pelaku teror

Mabes Polri diserang. Foto: Istimewa

Liputan.co – Aksi teror yang terjadi di beberapa wilayah seperti Makassar dan Mabes Polri, tak lepas dari peran pelaku yang berani melakukan tindakan yang menakutkan bagi banyak orang. Untuk mencetak pelaku teror dibutuhkan membangun keyakinan dengan cara cuci otak pelaku teror.

Salah satu keyakinan yang dibangun kepada pelaku teror jika aksi dilakukan, maka pelaku akan mati syahid dan dijemput 7 bidadari. Pemahaman inilah yang dinilai Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Dhani tak benar.

Menurutnya tak ada satupun ajaran Islam di Indonesia yang membenarkan tindakan bom bunuh diri mendapat pahala besar, baik dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, FPI hingga HTI. Selain itu taka da umat muslim di tanah air yang meyakini bom bunuh diri akan dijemput 7 bidadari di surga.

Apalagi jika ada yang beranggapakan aksi terorisme diperbolehkan oleh ajaran Islam. Karena semua itu merupakan langkah yang salah dan tidak diajarkan oleh agama Islam maupun golongan di agama Islam.

Heran Separuh Nafas Hits sampai Sekarang, Ahmad Dhani: Lagu Kayak Gitu Kok Bisa Ngetop

“Jadi, saya mohon jangan berhalusinasi soal ada yang mau melakukan bom bunuh diri untuk mendapatkan bidadari. Ini cuma karangan para mafia teroris saja,” kata Ahmad Dhani seperti dikutip Hops dari Kantor berita Politik RMol, Kamis 1 Maret 2021.

Ahmad Dhani pesan kepada buzzer soal teror
Terkait teror tersebut, Ahmad Dhani juga berpesan kepada para pendengung atau buzzer yang banyak membuat narasi aksi terorisme berbalut agama. Kepada para buzzer, ia mengingatkan fatwa haram Majelis Ulama Indonesia (MUI) kepada buzzer.

“Stop nge-buzz bahwa ada ulama yang mengajarkan bom bunuh diri untuk mendapatkan bidadari di surga. Sekali lagi, tidak ada ulama NU-Muhammadiyah-FPI-HTI dan lain-lain seperti itu. Saya kenal dekat semua,” demikian Ahmad Dhani menutup.

Pelaku Teror Mabes Polri
Aksi penyerangan Mabes Polri yang dilakukan oleh terduga teroris Zakiah Aini alias ZA menggegerkan publik. ZA menyerang Markas Besar Polri dengan mengacungkan sebuah senjata yang diduga adalah airsoft gun.

Zakiah Aini beraksi pada Rabu (13/3) sore hari. Terlihat mengacungkan senjata sendirian, ia mengarahkan senjata ke aparat yang berada di dalam Mabes. Usai mengacung-acungkan senjata, Zakiah kemudian tewas ditembak di bagian jantung.

Setelah melalui penyelidikan, Zakiah Aini ternyata merupakan warga yang berdomisili di Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur. Kasdi, Ketua RT tempat ZA tinggal mengungkap bagaimana kepribadian sang pelaku penyerangan Mabes Polri.

Menururt Kasdi, Zakiah Aini merupakan sosok perempuan yang sangat pendiam. Ia juga jarang keluar rumah. Bahkan, saking pendiam dan jarang keluar rumah, Kasdi mengaku jarang bertemu dengan ZA di lingkungannya.

“Dia itu diam, diam banget. Jarang keluar rumah. Saya saja jarang ketemu. Namanya perawan umur 25-26 tahun harusnya kan bergaul biar ketemu sama laki-laki kan ya, ini enggak,” ungkap Kasdi dilansir laman Suara, Kamis 1 April 2021.

Sementara itu, Kasdi menjelaskan, di hari kejadian penyerangan Mabes Polri, ZA pada pagi harinya terlihat keluar rumah. Menurut Kasdi, Zakiah Aini pamit kepada orang tuanya.

“Tadi pagi (kemarin) memang keluar rumah sekitar setengah sembilan atau jam sembilan-an lah. Pamit sama orang tuanya katanya,” ujar Kasdi.

Sebelumnya dalam keterangan resmi, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjelaskan bahwa Zakiah Aini adalah seorang mantan mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Depok. Namun, Zakiah kemudian di-drop out alias DO pada semester 5 oleh pihak kampus.