Mengintip Gurun Terpanas di Bumi, Pasirnya Mampu Menggoreng Telur

Mengintip Gurun Terpanas di Bumi, Pasirnya Mampu Menggoreng Telur (2)

Liputan.co – Sebuah tempat di Iran baru-baru ini menuai sorotan publik setelah dinobatkan menjadi yang terpanas di dunia. Terbukti, saking panasnya, pasir di gurun tersebut bahkan mampu menggoreng telur.
Mengutip dari Oddity Central, Dasht-e Lut yang berarti Dataran Kehampaan dalam bahasa Persia, dipercaya oleh para ilmuwan sebagai gurun yang pada jutaan tahun lalu merupakan dasar laut.

Pergeseran tektonik diduga jadi penyebab dataran laut naik, sementara air yang tersisa kemudian menguap karena temperatur tinggi. Kini, di dataran tandus berukuran 51 km persegi tersebut dikelilingi oleh pegunungan di tiap sisi.
Imbas dari lokasi yang terdapat banyak gunung tersebut, udara lembab dari Laut Mediterania dan Laut Arab jadi tidak bisa masuk. Alhasil gurun Dasht-e Lut memecahkan rekor sebagai tempat dengan suhu terpanas di dunia.

Mengintip Gurun Terpanas di Bumi, Pasirnya Mampu Menggoreng Telur - kumparan.com

Lewat Spektroradiometer Pencitraan Resolusi Sedang yang terpasang di satelit Aqua NASA, disebutkan antara 2003-2010, serta data yang terhimpun mengungkap suhu tanah terpanas rata-rata tercatat di Dasht-e Lut tersebut.
Adapun temperatur tertinggi yang tercatat di wilayah tersebut mencapai 70,7 derajat celsius pada 2005 silam. Meski begitu, sejak itu hingga kini, satelit selalu mencatatkan suhu tertinggi berasal dari gurun asal Iran tersebut.
Bagian terpanas dari Dasht-e Lut adalah wilayah bernama Gandom Beryan, dataran tinggi seluas 480 km persegi. Kerikil vulkanik di yang menyelimuti dataran tersebut faktor suhu tinggi di wilayah itu lantaran menyerap banyak energi matahari, tapi sedikit melepaskan.

Menariknya, nama Gandom Beryan berarti berarti gandung panggang dalam bahasa Persia, terinspirasi dari legenda roti yang terpanggang ketika ditinggalkan di gurun tersebut. Dengan suhu yang memang begitu panas, legenda tersebut pun mudah dipercaya.

Faktor lain yang membuat Dasht-e Lut semakin panas adalah kurangnya tumbuh-tumbuhan. Tanah yang asin lantaran mengandung garam membuat tanaman sulit bertahan. Hanya ada beberapa lumut gurun di daerah tamariska, semak yang bisa tumbuh setinggi 10 meter.

“Suhu terpanas diamati di lokasi tanpa vegetasi. Ini berarti jika perubahan lanskap di suatu wilayah mengakibatkan berkurangnya vegetasi, suhu permukaan tertinggi diperkirakan bakal lebih panas. Jika sebuah oasis dikembangkan dengan irigasi dari air bawah permukaan di gurun, suhu maksimum bisa mengecil,” kata Roger Pielke Sr. selaku ahli iklim dari Institut Kerjasama Penelitian Ilmu Lingkungan di Universitas Colorado kepada NASA.
Hal mengejutkan dari gurun tandus yang viral tersebut, meski pasir dan bebatuan bisa digunakan untuk menggoreng telur, temperatur udara di Dasht-e Lut rata-rata sebesar 39 derajat celsius.