Menurut Penelitian, Ini Perbedaan Pria dan Perempuan saat Patah Hati

4 views

putus cinta dengan pasangan

Liputan.co – Masalah cinta dan patah hati selalu rumit dan kadang sulit diuraikan. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memulihkan diri dan sembuh dari patah hati. Bahkan perempuan dan pria punya kecenderungan berbeda ketika patah hati. Ada penelitian menarik terkait hal ini.

Patah hati bisa memberi dampak berbeda pada perempuan dan pria. Melansir laman timesofindia.indiatimes.com, menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Evolutionary Behavioral Sciences, perempuan mengalami rasa sakit emosional dan fisik setelah patah hati tapi cenderung lebih cepat move-on daripada pria. Berikut uraian singkatnya.

Perempuan dan Patah Hati

Para peneliti dari Binghamton Univesity dan University College London mewawancarai 5.705 partisipan dari 96 negara dan meminta mereka untuk mengukur rasa sakit emosional dan fisik setelah patah hati dengan skala 0 (tidak sakit) hingga 10 (sakit sekali).

Penelitian tersebut menemukan bahwa perempuan mendapat lebih banyak dampak negatif baik secara fisik maupun emosi karena patah hati. Para partisipan perempuan mengukur sakit emosionalnya sebanyak 6,84 sedangkan pada pria angkanya 6,58. Lalu, untuk rasa sakit fisik yang dirasakan, partisipan perempuan rata-rata mencapai skala 4,21 dan pria 3,75.

Meski perempuan lebih menderita setelah patah hati, tapi mereka lebih cepat memulihkan diri. Selain itu, bisa menjadi lebih kuat setelah berhasil mengatasi rasa patah hatinya tersebut.

Pria dan Patah Hati

Penelitian yang sama menemukan bahwa ketika pria patah hati, ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, tidak merasakan apa-apa. Kedua, melampiaskannya pada hal lain seperti minum minuman beralkohol, melakukan kekerasan, atau menyalahgunakan narkoba.

Pria butuh waktu lebih lama daripada perempuan untuk memulihkan diri dari patah hati. Bahkan bisa merasa lebih kesulitan dan menderita untuk bisa membuka lembaran baru. Para peneliti menemukan bahwa banyak partisipan pria yang menderita PRG (post relationship grief) pada penelitian tersebut meski mereka sudah putus hubungan lebih dari satu tahun.

Wah, penelitian ini cukup menarik juga, ya. Yang pasti sih memulihkan diri dari patah hati tidak selalu mudah. Serta, pengalaman pada tiap orang bisa berbeda satu sama lain. Kalau Sahabat Fimela sendiri, punya pengalaman berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk benar-benar pulih dari patah hati?