Mujair dan Nila, Ikan Asing yang Sering Disebar Pemerintah dalam Program Bantuan

File:Tilápia ou Sarotherodon niloticus 2.jpg - Wikimedia Commons

Jakarta – Selain disebabkan kerusakan dan pencemaran habitat, ekosistem perairan Indonesia juga terancam dengan adanya berbagai jenis ikan introduksi yang berpotensi menjadi ikan invasif. Ikan introduksi merupakan ikan yang berkembangbiak di luar habitat aslinya akibat campur tangan manusia baik disengaja maupun tidak.

Ikan introduksi ini bisa menjadi invasif jika mampu menyingkirkan spesies asli dalam persaingan memperebutkan sumber daya seperti nutrisi, cahaya, ruang, air, dan sebagainya. Beberapa spesies ikan introduksi bahkan kerap dianggap sebagai ikan lokal karena saking seringnya dijumpai oleh masyarakat, misalnya mujair, lele dumbo, mas, bawal air tawar, sampai ikan nila.
Situasi semakin mengkhawatirkan dengan banyaknya kasus penebaran benih ikan-ikan asing ke perairan Indonesia karena ketidaktahuan.

“Bahkan tidak jarang yang melakukan itu instansi-instansi resmi seperti pemerintahan, ikut melepas ke sungai sebagai bagian dari program, misalnya cinta lingkungan mengembalikan ekosistem sungai atau untuk program ekonomi warga,” kata pakar herpetologi sekaligus Kepala Museum Biologi UGM, Donan Satria Yudha, Jumat (26/2).

Karena memiliki nilai ekonomis sebagai ikan konsumsi, lambat laun ikan-ikan asing tersebut semakin dekat dengan masyarakat hingga kini sering dianggap sebagai ikan lokal. Imbasnya, ikan-ikan lokal asli perairan Indonesia semakin terancam bahkan tidak sedikit yang sudah hilang dari habitatnya karena kalah dalam kompetisi.

“Kita bisa lihat, misalnya ikan nila sudah tersebar di hampir semua perairan di Indonesia, sedangkan ikan-ikan lokal justru semakin sedikit populasinya,” ujarnya.
Terlebih, ikan-ikan asing ini kebanyakan memiliki kemampuan berkembangbiak yang cepat serta lebih tahan terhadap kondisi ekosistem yang ekstrem, sehingga membuat mereka akhirnya memenangkan kompetisi dengan ikan-ikan lokal.

Cara Memelihara Indukan Ikan Nila dengan Mudah

Ikan-ikan lokal di perairan Indonesia sangat beraneka ragam, antar daerah apalagi pulau, sangat berbeda jenis ikannya. Di Jogja misalnya, yang termasuk ikan lokal adalah ikan kepek, wader, melem, cakul, beles, sepat, dan masih banyak lagi. Sementara di Merauke, Papua, terdapat banyak spesies ikan asli di antaranya, arwana, kekap putih, sembilang kuning, sembilang hitam, sembilang merah, kakap batu loreng, sumpit, mata bulan, tulang, dan julung. Namun, bahkan di Merauke, ikan nila jadi masalah utama.

Ikan nila yang sekarang nyaris tersedia di semua warung makan di Indonesia ternyata bukan ikan asli perairan Indonesia. Mengutip jurnal ilmiah M. Yusuf Arifin dari Universitas Batanghari Jambi pada 2016, ikan jenis Tilapia ini awalnya berasal dari perairan di lembah sungai Nil Afrika.

Pertama kali, ikan nila didatangkan ke Indonesia pada tahun 1969, 1990, serta 1994 yang masing-masing berasal dari Taiwan, Thailand, serta FIlipina. Sementara itu, ikan mujair meski disebut-sebut ditemukan pada 1930-an oleh Mbah Moedjair, pria asal Blitar Jawa Timur, namun diketahui ikan ini berasal dari perairan Mozambik, Afrika.
“Kalau merunut sejarah ikan di Asia Pasifik pada 1917, nila dan mujair itu bukan ikan asli Indonesia. Jadi sudah salah kaprah karena dianggap ikan lokal jadi banyak disebarkan,” kata Donan Satria Yudha.

Sama dengan nila dan mujair, ikan lele dumbo juga berasal dari perairan Afrika. Mengutip jurnal Estu Nugroho dan Sabara Putera dari Pusat Riset Perikanan LIPI pada 2017, ikan ini pertama kali masuk ke Indonesia pada 1986 melalui sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Pertumbuhan lele dumbo termasuk spektakuler, dibandingkan lele lokal, lele dumbo memiliki pertumbuhan empat kali lebih cepat. Lambat laun, ikan lele dumbo justru lebih mudah ditemui di perairan Indonesia ketimbang lele lokal sebagai spesies asli.

Ikan bawal air tawar yang kini banyak dikonsumsi di Indonesia juga bukan berasal dari perairan Indonesia. Ikan yang memiliki bentuk mirip piranha ini berasal dari perairan Amazon di Amerika Selatan. Ikan ini berkembang dengan baik di beberapa negara seperti Venezuela, Colombia, Peru, Ekuador, Brazil,serta Argentina.

Ikan ini pertama kali masuk ke Indonesia pada 1986, dibawa dari Brazil oleh sebuah perusahaan swasta di bidang usaha budidaya ikan. Ketika awal-awal masuk ke Indonesia, bawal air tawar dijadikan sebagai ikan hias, namun lama-lama tren berubah menjadi ikan konsumsi setelah berkembang secara drastis.
Ikan asing lain yang kerap dianggap sebagai ikan lokal adalah ikan mas. Awalnya, ikan ini berasal dari perairan Amerika, Eropa, serta beberapa negara di Asia. Di Indonesia, ikan mas pertama kali dipelihara sekitar tahun 1920-an. Adapun sebagian besar ikan mas yang ada di Indonesia berasal dari China, Eropa, Taiwan, dan Jepang.

BKIPM KKP, memasukkan ikan mas ke dalam jenis ikan invasif yang mengancam ekosistem perairan Indonesia. Adapun dampak yang disebabkan dari ikan mas di antaranya penurunan kualitas perairan, meningkatkan kekeruhan, dan kompetisi makanan dengan jenis ikan lain dalam suatu habitat.

Beberapa spesies ikan tersebut sampai sekarang sudah menyebar luas di seluruh perairan Indonesia. Bahkan, Gema Wahyu Dewantoro dan Ike Rachmatika dalam buku Jenis Ikan Introduksi dan Invasif Asing di Indonesia yang diterbitkan oleh LIPI sudah tidak lagi memasukkan ikan mas, nila, dan mujair ke dalam daftar ikan introduksi dan invasif asing di Indonesia.
“Karena ketiga jenis ikan tersebut sudah dibudidaya dan dipasarkan secara luas dan ‘dianggap’ sebagai ikan Indonesia,” tulis Gema dan Ike dalam buku tersebut.

Catatan Wahyu Tri Handoyo, peneliti dari Loka Riset Mekanisme Pengolahan Hasil Perikanan (LR MPHP) menunjukkan bahwa ancaman ikan introduksi bagi ekosistem asli adalah nyata. Dia menyebutkan ada beberapa penelitian yang telah dilakukan terkait dengan ancaman ikan invasif di sejumlah perairan lokal Indonesia.
Penelitian yang dilakukan oleh Hadiaty yang dipublikasikan di Jurnal Iktiologi Indonesia 2011 misalnya, menunjukkan bahwa ada 86 spesies ikan yang dulu hidup di danau-danau aliran sungai Cisadane, kini hanya dijumpai 24 spesies saja.

“Artinya laju kehilangan spesiesnya mencapai 72,1 persen,” tulis Wahyu.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Prianto dalam Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia (2016), menunjukkan bahwa keberadaan ikan invasif telah menjadi permasalahan utama bagi pengelolaan perikanan perairan umum daratan di Indonesia, khususnya di komplek Danau Malili.

Populasi ikan asing invasif telah memasuki hampir seluruh perairan komplek Danau Malili dan mendominasinya. Masuknya jenis-jenis ikan invasif ke perairan lokal menurutnya telah mengancam keberadaan ikan endemik di perairan tersebut.

“Populasi ikan endemik yang terancam punah misalnya ikan lais kaca, ikan parang-parang bangkok, ikan sepat mutiara, serta ikan ridiangus yang terdapat di perairan Hutan Harapan di Jambi,” tulis Wahyu Tri Handoyo.