Sempat Dinyatakan Hilang, Pria Ini Ternyata Daftar Seleksi TNI & Sukses

Liputan.co – Butuh perjuangan dan kesungguhan hati untuk menjadi seorang prajurit yang mengabdi pada Ibu Pertiwi. Kisah dari pria bernama Rizal menjadi buktinya.

Beberapa kali gagal seleksi menjadi prajurit, Rizal tak patah semangat. Banyak rintangan yang menghampiri kala ia memantapkan hati untuk mendaftar menjadi prajurit.

Mulai dari kekurangan uang hingga terputusnya komunikasi dengan keluarga di kampung halaman. Seperti apa cerita unik dari Rizal kali ini? Simak ulasan selengkapnya berikut ini, dikutip dari kanal YouTube Anggi piliang (5/12/20).

Menjadi seorang tentara pelindung bangsa merupakan asa dari Rizal sedari dulu. Ia berniat untuk menjadi seorang prajurit sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Tak ada desakan atau dorongan dari kedua orang tua bagi Rizal untuk mantap menjadi seorang patriot. Tulus dari hati, ia mencoba untuk mengikuti seleksi usai lulus dari sekolah.

“Kenapa sih kamu pengen sekali menjadi seorang tentara? Padahal kerjaan yang lain itu banyak,” tanya Anggi.

“Soalnya rumahku itu kan di daerah pelosok kan, di situ tuh enggak ada polisi, enggak ada tentara. Jadi aku pengen sekali masuk jadi tentara,” jawabnya.

“Ada dorongan kayak kamu harus jadi tentara kamu harus jadi ini gitu?” tanyanya kembali.

“Itu enggak ada,” balasnya.

“Berarti itu cita-cita dari kecil?” tanyanya.

“Iya, dari SMP,” ungkapnya.

Kesungguhan menjadi tentara mengarahkan kakinya untuk melangkah jauh. Ia merantau ke Ternate dan jauh dari keluarga. Usai mendapatkan kegagalan saat memasuki pendidikan tentara, ia masih harus merasa kesulitan lantaran kekurangan uang.

Dari sana, muncul ide baginya untuk bekerja serabutan untuk mendapatkan uang dan menabung demi asanya menjadi prajurit TNI.

“Pagi aku lari gitu kan, habis itu aku sering bantu-bantu cuci tetangga punya mobil gitu kan, nyewa gitu[…] Alhamdulillah, mulai dari situ aku punya uang dan menabung,” ungkapnya.
Menelan kepahitan lantaran gagal sebanyak lebih dari tiga kali justru membuat Rizal termotivasi. Pada seleksi terakhir, ia berniat untuk pasrah dan menerima segala takdir Tuhan.

Namun, doa dan perjuangannya tak sia-sia. Ia malah berhasil lolos hingga membuat air matanya berlinang membasahi kedua pipi. Momen itu tak akan pernah ia lupakan hingga akhir hayat.

“Teman-teman aku sudah begini kan, aku bilang ‘sudah kawan, aku juga belum tahu lolos atau enggak kan, kalau kita enggak lolos ya sudah kita balik kampung cari pekerjaan’,” terangnya.

“Pas itu, dipanggil lah, dipisahkan begitu, yang ini kalian dibilang belum lulus. Yang sisanya ini, aku kan di situ itu dibilang lulus dan lanjutkan pendidikannya. Aku langsung nangis itu, orang tuaku belum tahu. Padahal pengen sekali ketemu orang tua, enggak datang kan soalnya,” katanya.

Sedari pendidikan awal, ia menyebut komunikasi dengan keluarga di kampung halaman pun terputus. Ia belum sempat mengabari bahwa dirinya kala itu tengah menjalani pendidikan sebagai prajurit.

Alhasil, keberadaan Rizal menjadi sebuah tanda tanya besar hingga sempat dikira hilang oleh keluarganya sendiri. Namun, pada momen pelantikan Rizal lantas menghubungi ibunda hingga membuatnya terharu dan diliputi kebahagiaan.

“Pelantikan itu kan, orang tua enggak datang. Aku telepon kan, dimarah-marahin kan sama orang tua. Mereka bilang kamu dimana dicari-cari orang tua,” katanya.

“Jadi orang tuamu sampai cari ke Ternate itu?” tanya Anggi.

“Iya sampai cari ke Ternate, cari dan bilang kenal anak ini enggak, kenal anak ini enggak,” ceritanya.

“Oh kamu dikira hilang?” tanyanya.

“Iya, dikira hilang[…] Cuma aku bilang, bu coba matikan dulu nanti aku kirim foto gitu kan. Minta tolong foto gitu kan langsung aku kirim. Ibuku langsung telepon, nangis ibuku itu,” paparnya.