Viral Aliran Hakekok Ritual Mandi Bersama, Ini Sejarah Kasusnya

3 views

Jakarta – Gempar Aliran Hakekok yang melibatkan 16 orang di Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten, baru-baru ini membuat masyarakat ingin mengetahui lebih lanjut apa itu aliran Hakekok.

Para pelaku yang tergabung dalam aliran ini mempunyai ritual yang tak biasa, yaitu mandi bersama di sebuah rawa. Tujuan mandi bersama telanjang bulat adalah untuk membersihkan diri dari segala dosa dan menjadi lebih baik.

Sebelumnya, aliran ini dipimpin oleh orang tua A yaitu S sampai S meninggal dunia, ia dikenal sebagai guru spiritual di wilayah Bogor, Jawa Barat (Jabar). Diketahui, ada 16 anggota yang mengikuti aliran Hakekok Balatasutak yakni terdiri dari 8 laki-laki, 5 perempuan dan 3 anak-anak.

Menurut rangkuman yang di dapat RRI dari berbagai sumber, Sabtu (13/3/2021) Hakekok Balatasutak mempunyai jejak yang buruk. Tahun 2009 lalu, anggota aliran Hakekok memperkosa salah satu pengikutnya di padepokan di Desa Sekon, Kecamatan Cimanuk.

Selain aliran Hakekok Balatasutak, banyak aliran kontroversial di Indonesia yang dipimpin oleh seseorang yang dianggap sebagai ‘guru spiritual’.

Pada 2016 lalu, heboh kasus Gatot Brajamusti terkait kasus pelecehan seksual. Saat itu, Gatot melakukan pencabulan terhadap pengikutnya yang berinisial Ct (26). Perempuan itu dicabuli selama empat tahun yaitu sejak 2007 hingga 2011, bahkan Ct sampai melahirkan seorang bayi.

Atas perbuatannya tersebut, Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 9 tahun penjara dan denda Rp 200 juta kepada Gatot pada 2018 lalu. Putusan itu lebih ringan dari tuntutan jaksa selama 15 tahun penjara.

Selain Ct, aktris sekaligus pengikutnya yaitu Reza Artamevia menjadi korban AA Gatot. Saat itu, Reza melaporkan Gatot terkait kasus penipuan aspat yang disebut-sebut sebagai makanan jin ternyata narkotik jenis sabu.

Tahun 2016 masyarakat Indonesia juga dihebohkan dengan aliran Dimas Kanjeng. Ia adalah pendiri dari padepokan yang mengaku bisa menggandakan uang.

Padepokan tersebut didirikan tahun 2010 di Dusun Sumber Cengkelek RT-22/RW-08 Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Dimas kanjeng menjanjikan kepada para santrinya untuk menggandakan 1.000 kali lipat dari uang yang disetorkannya, bila menyetor Rp100 ribu, akan mendapatkan Rp100 juta hingga Rp1 miliar.

Selanjutnya, Dimas Kanjeng pun memerintahkan santrinya untuk berburu ayam hutan di Gunung Semeru tanpa memakai alat.

Selain itu, ia juga memerintahkan untuk menangkap sedikitnya 200 ekor udang di petilasan Gajahmada dan wajib membeli seutas benang sepanjang 15 sentimeter yang disebut sebagai ‘Tali Ali Baba’ seharga Rp200 ribu. Selain menggandakan uang dan mengajarkan ritual-rutual tersebut, Dimas kanjeng juga melakukan pembunuhan terhadap pengikutnya yaitu Abdul Ghani.

Sementara di tahun 2017, Pengadilan Negeri Kraksaan Probolinggo, Jawa Timur menjatuhkan vonis 18 tahun penjara kepada Dimas Kanjeng dalam kasus pembunuhan. Sedangkan di kasus penipuan, Dimas Kanjeng dijatuhi vonis dua tahun penjara oleh PN Kraksaan.

Kasus penipuan lain yang berkedok aliran spiritual dan iming-iming uang adalah aliran Swissindo. Ketua Swissindo, Soegiharto Notonegoro alias Sino mengklaim bisa melunasi utang umat manusia di bumi United Nation Trust Orbit Swissindo (UN Swissindo).

Tim Publikasi UN Swissindo Rahardjo pernah memberikan keterangan pers terkait pihaknya yang mampu menyejahterakan rakyat Indonesia. Dia mengaku Swissindo memiliki hak untuk mendapatkan warisan dari berbagai pendiri, salah satunya Soekarno.

Aset itu, kata Rahardjo, bisa dicairkan dalam bentuk dolar maupun rupiah hanya dengan voucer M1 ke bank. M1 adalah voucher yang harus dimiliki oleh para pengikutnya.

Setiap warga negara yang memiliki Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) bisa mengisi voucer M1 tersebut. Voucer M1 itu memiliki nominal sebesar US$1.200 atau setara dengan Rp15 juta bagi setiap orang. Voucer tersebut tidak dapat diperjualbelikan.

Pada 2 Agustus 2018, bos Swissindo, Soegiharto Notonegoro ditangkap oleh Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal (Dittipideksus Bareskrim) atas tindakan penipuan.